Hijrah

Standar

Ah Sejuk pagi ini aku rasakan

Nikmat yang luar biasa dari Tuhan

Udara bersih terasa menyegarkan

Mengalirkan oksigen ke otak sebagai kebutuhan
Segar rasanya aku nikmati

Seakan setelah mati hidup kembali

Ya, hidup kembali

Setelah beberapa lama tiada

Lantaran pagi terlewatkan begitu saja

Terlelap di atas tikar lusuh apa adanya
Aku tidak menyalahkan siapa-siapa

Teman satu kamar atau yang menginap dengan bebasnya

Biasa tidur hingga surya menyilaukan sinarnya
Setelah kemarin pindah ke kamar depan

Dengan harapan bisa lebih semangat dalam perjuangan 

Memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit

Sebat tak ada yang tau kapan badan akan terhimpit

Oleh kubur yang begitu sempit

Iklan

Yakin

Standar

Malam minggu begitu kelabu

Atau lebih tepatnya penuh dengan belenggu

Gemuruh hujan berjatuhan tanpa jeda

Seolah menggambarkan kesedihan seorang pemuda

Ya seorang pemuda desa yang sedang merantau di kota tetangga

Demi sejumlah harapan dan cita-cita

Kesedihan yang bermula dari sebuah permasalahan yang tak kunjung reda

Di akhir tiga bulan uang beasiswa sudah sirna

Dompet semakin tipis lantaran uang habis 

Mencari pinjaman kepada teman tapi malu

Lantaran sudah beberapa kali minjam berlalu

Perut lapar

Tenggorokan kering

Kepala pusing

Bagaimana mau fokus belajar 

Jikalau pikiran dan perut saling bertengkar 

Tapi aku harus sadar

Hidup bukanlah rangkaian dalih

Ketiadaan bukan berarti tidak bisa

Justru bisa karena tiada itulah hal yang luar biasa~

Refleksi 

Standar

Kali ini kucoba untuk menulis

Tentang hal yang membuat semangatku semakin terkikis

Sering aku bertanya dalam benak sendiri

Mengapa hidupku kian hari semakin begini

Semangat yang dulu begitu menyala

Sekarang tiap detik terasa makin sirna

Ada apa dengan diriku

Padahal semakin banyak tanggung jawab yang harus aku ampu

Atau justru itukah yang menjadikan pikiranku begitu keruh

Aktifitas yang bertumpah ruah

Menyita waktu yang semakin bertambah

Sampai aku bertanya pada diri sendiri

Aktifitas apa yang menyita banyak waktuku

Hingga aku sadari

Terlalu banyak berkegiatan duniawi

Ibadah terkurangi secara perlahan

Kehidupan terasa kurangnya keberkahan

Pada akhirnya aku ambil kesimpulan

Cepatlah pulang sebelum terlalu jauh sesat di jalan~

“Nulis di depan pantai, “kesenangan” dalam perspektif yang berbeda”.

Standar

Selamat pagi para pembaca yang budiman. Gimana nih kabarnya hari ini? Semoga kita selalu diberi kesehatan dalam ketaatan. Aamiin

Pagi ini tepatnya setelah shalat subuh, sekitar pukul lima lewat sepuluh menit saya membuka laptop dengan tujuan untuk mengetikkan jemari sekaligus mengisi waktu luang dan coba menuangkan apa yang ada di pikiran saya. 

Saat ini saya sedang berada di Villa HE 200-Anyer, Kabupaten Pandeglang. Saya berada di villa ini sejak tadi malam untuk menghadiri kegiatan Malam Keakraban (Makrab) Pasca Aksigara 2017.

Sebelum sholat subuh saya sudah berniat untuk menyempatkan waktu menulis beberapa paragrap tulisan entah tentang apapun itu yang ada di pikiran saya ketika saya selesai sholat, yang terpenting saya nulis, karena feel nulis kali ini pasti beda dari biasanya sebab saya nulisnya di depan pantai guys hehe. Ya, ditemani juga oleh gemuruh ombak pagi dan bilah-bilah cahaya yang mulai bermunculan. Namun sayangnya, kali ini tidak ditemani secangkit kopi.

Oiya, karena (sedikit) bingung topik apa yang harus saya angkat dalam tulisan kali ini, saya coba buat nulis tentang “Senang dalam perspektif yang berbeda”. 

Bicara soal senang, tentu sangatlah beragam contohnya. Ada orang yang senang ketika ia mampu menraktir makan teman-temannya, Ada yang senang karena menyaksikan performance penyanyi favoritnya, ada yang senang saat mendapat nilai bagus pada ujian di sekolah atau kampus, ada juga yang senang karena punya kesempatan membaca buku bagus dan berhasil menuliskan hasil pemahamannya di blog pribadinya, dan lain sebagainya yang tentunya masih banyak. 

Meskipun kesenangan begitu beragam, namun sifatnya relatif. Sebuah hal tertentu mungkin menurut sebagian orang merupakan suatu kesenangan tapi belum tentu bagi sebagian lainnya. Misalnya, mendapatkan uang jajan lebih banyak dari biasanya mungkin merupakan kesenangan bagi si A, tapi bisa jadi bagi si B juga. Maaf contohnya sedikit ngawur hehe. Nih saya kasih contoh yang relevan, menyaksikan pertunjukan musik bagi orang-orang tertentu merupakan hal yang bisa mendatangkan kesenangan, tapi bisa jadi bagi sebagian yang lainnya merupakan hal yang membosankan dan lebih memilih berlama-lama membaca buku dan menulis di blog karena hal tersebut sumber kesenangan baginya. 

Kesimpulannya, jangan memaksakan agar orang lain senang dengan apa yang kita senangi karena setiap orang memiliki perspektif dan minat tersendiri terhadap suatu hal yang bisa membuatnya senang.

Sekian dan terima kasih telah membaca tulisan saya..

(Lepas) Tanggung Jawab

Standar

Tanggung jawab. Ya, bertanggung jawab merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap orang khususnya orang yang diberikan amanah atau kepercayaan. 

Oiya, sebelumnya saya ingin menyapa terlebih dahulu bagaimana kabar para pembaca yang budiman? Kalau boleh sharing, kira-kira punya tanggung jawab dalam hal apa nih yang sekarang sedang dihadapi? 

Bertolak dari pilihan saya sekitar bulan Desember 2016 untuk bergabung bersama Ormawa (Organisasi Mahasiswa) di tingkat jurusan, yaitu Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HIMANE). Untuk bergabung di Himane, diawali dengan mengikuti beberapa prosedur, mulai dari rekrutmen seperti pengumpulan berkas-berkas sebagai persyaratan administrasi, wawancara, team building, hingga pengumuman nama-nama yang lolos dan diterima sebagai anggota HIMANE periode kepengurusan 2017. Saya ditempatkan di divisi kaderisasi atau PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia). 

Divisi kaderisasi merupakan divisi yang bergerak di bidang pengembangan atas sumber daya manusia baik yang berada di internal Himane maupun eksternal yaitu mahasiswa jurusan Administrasi Negara selain anggota Himane. Divisi kaderisasi memiliki beberapa program kerja, diantaranya : Beginning, Jumpa dulur ANE, Upgrading, Aksigara dan LK I. Saya dipercaya oleh Kadiv (kepala divisi) kaderisasi untuk bertanggung jawab memegang Aksigara. 

Aksigara merupakan kependekan dari Ajang keakraban mahasiswa baru jurusan Ilmu Administrasi Negara yaitu ajang perkenalan dan keakraban di tingkat jurusan yang ditujukan bagi mahasiswa baru yang diterima di jurusan Ilmu Administrasi Negara. 

Dari sinilah mulai terjadi peningkatan kuantitas tanggung jawab saya. Selain harus bergelut dengan tumpukan tugas-tugas kuliah, tapi juga harus bertanggung jawab atas “konsep” Aksigara 2017.

Setelah didiskusikan dengan beberapa orang terkait, akhirnya terciptalah konsep “serangkaian”.  Serangkaian dikarenakan pertemuannya tidak hanya 3 hari 2 malam seperti ajang keakraban di jurusan lain, tapi pelaksanaannya serangkaian selama 5 minggu, dengan cara mentoring bersama para mentor setiap seminggu sekali dan dilanjutkan dengan pertemuan akbar di setiap akhir pekan. Itu berlangsung selama 4 minggu, karena minggu terakhir (minggu ke-5) yaitu pasca Aksigara yang bentuknya pengabdian masyarakat dan malam keakraban serta mahasiswa baru yang mengurus dan bertanggung jawab atas konsepan dan keberlangsungannya. Tapi tetap dengan pengawasan dan bimbingan dari Himane. 

Melihat konsep yang sudah (sedikit) saya jelaskan tadi, begitu banyak yang perlu saya pertanggungjawabkan rasanya, mulai dari rapat-rapat persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi setelah selesai kegiatan. Hingga akhirnya saya merasa pusing dan jenuh akibat rutinitas tersebut, karena tanggung jawab di luarpun (selain himpunan) begitu banyak. Terkadang (bahkan sering) ketika pusing, saya lepas tanggung jawab atas kegiatan tersebut sehingga harus ketua himpunan yang turun langsung untuk menggantikan saya. (Saya berterima kasih banyak kepada ketua himpunan yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan Aksigara 2017). 

Terakhir dari saya, jikalau merasa mampu ambilah amanah yang orang lain (akan) berikan dan jalani dengan penuh tanggung jawab. Namun kalaulah tidak mampu, jangan sesekali karena hanya akan menjadi beban dan beban. Tapi kalau mau belajar, itulah yang lebih baik..

Bersyukurlah. 

Standar

Berbicara soal perasaan, menarik memang untuk diangkat ke daratan.

Saya akan coba angkat, meskipun hanya melalui tulisan singkat. 

Seringkali diantara kita membatasi perasaan dengan sekat, yaitu diidentikan dengan perasaan seseorang terhadap lawan jenis, ya soal hati. Saya tidak menyalahkan pendapat demikian, karena tergantung sudut pandang mana yang orang tersebut gunakan. Jika berbicara perasaan terkait ketertarikan terhadap lawan jenis, memang kita tidak bisa menafikan karena itu normal, ya, manusiawi. 

Saya akan coba sedikit mengupas tentang perasaan dari sudut pandang yang lain. Menurut saya, perasaan hanya ada dua, suka dan duka. Suka manakala realita selaras dengan harapan, duka jika terjadi kensejangan antara yang diinginkan dengan kejadian di lapangan. Jika ditimbang, kerapkali lebih banyak duka dibanding suka. Mungkin karena kita terlalu berekspektasi tinggi atau bisa jadi syukur kita yang masih kurang. Sehingga duka mengungguli suka, nikmat yang begitu banyak seolah tidak tampak dan hati tidak pernah merasa puas bahkan terus mengeluh lantaran merasa hidup tidak cukup. 

Pesan saya terhadap diri pribadi dan rekan-rekan pembaca, tolong hati-hati jangan kufur terhadap nikmat karena itu bisa mengundang laknat, syukuri lah agar semuanya menjadi berkah. 

Batik Itu.. 

Standar

Batik itu.. 

Aset bangsa, warisan para orang tua

Batik itu.. 

Beragam rupa, tidak hanya baju tapi juga lainnya

Batik itu.. 

Bermacam coraknya, juga bermacam keindahannya

Batik itu.. 

Identitas bangsa, yang harus dijaga kelanggengannya 

Batik itu.. 

Ya batik hehe

Selamat hari batik nasional~

Serang, 02 Oktober 2017