“Nulis di depan pantai, “kesenangan” dalam perspektif yang berbeda”.

Standar

Selamat pagi para pembaca yang budiman. Gimana nih kabarnya hari ini? Semoga kita selalu diberi kesehatan dalam ketaatan. Aamiin

Pagi ini tepatnya setelah shalat subuh, sekitar pukul lima lewat sepuluh menit saya membuka laptop dengan tujuan untuk mengetikkan jemari sekaligus mengisi waktu luang dan coba menuangkan apa yang ada di pikiran saya. 

Saat ini saya sedang berada di Villa HE 200-Anyer, Kabupaten Pandeglang. Saya berada di villa ini sejak tadi malam untuk menghadiri kegiatan Malam Keakraban (Makrab) Pasca Aksigara 2017.

Sebelum sholat subuh saya sudah berniat untuk menyempatkan waktu menulis beberapa paragrap tulisan entah tentang apapun itu yang ada di pikiran saya ketika saya selesai sholat, yang terpenting saya nulis, karena feel nulis kali ini pasti beda dari biasanya sebab saya nulisnya di depan pantai guys hehe. Ya, ditemani juga oleh gemuruh ombak pagi dan bilah-bilah cahaya yang mulai bermunculan. Namun sayangnya, kali ini tidak ditemani secangkit kopi.

Oiya, karena (sedikit) bingung topik apa yang harus saya angkat dalam tulisan kali ini, saya coba buat nulis tentang “Senang dalam perspektif yang berbeda”. 

Bicara soal senang, tentu sangatlah beragam contohnya. Ada orang yang senang ketika ia mampu menraktir makan teman-temannya, Ada yang senang karena menyaksikan performance penyanyi favoritnya, ada yang senang saat mendapat nilai bagus pada ujian di sekolah atau kampus, ada juga yang senang karena punya kesempatan membaca buku bagus dan berhasil menuliskan hasil pemahamannya di blog pribadinya, dan lain sebagainya yang tentunya masih banyak. 

Meskipun kesenangan begitu beragam, namun sifatnya relatif. Sebuah hal tertentu mungkin menurut sebagian orang merupakan suatu kesenangan tapi belum tentu bagi sebagian lainnya. Misalnya, mendapatkan uang jajan lebih banyak dari biasanya mungkin merupakan kesenangan bagi si A, tapi bisa jadi bagi si B juga. Maaf contohnya sedikit ngawur hehe. Nih saya kasih contoh yang relevan, menyaksikan pertunjukan musik bagi orang-orang tertentu merupakan hal yang bisa mendatangkan kesenangan, tapi bisa jadi bagi sebagian yang lainnya merupakan hal yang membosankan dan lebih memilih berlama-lama membaca buku dan menulis di blog karena hal tersebut sumber kesenangan baginya. 

Kesimpulannya, jangan memaksakan agar orang lain senang dengan apa yang kita senangi karena setiap orang memiliki perspektif dan minat tersendiri terhadap suatu hal yang bisa membuatnya senang.

Sekian dan terima kasih telah membaca tulisan saya..

Iklan

(Lepas) Tanggung Jawab

Standar

Tanggung jawab. Ya, bertanggung jawab merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap orang khususnya orang yang diberikan amanah atau kepercayaan. 

Oiya, sebelumnya saya ingin menyapa terlebih dahulu bagaimana kabar para pembaca yang budiman? Kalau boleh sharing, kira-kira punya tanggung jawab dalam hal apa nih yang sekarang sedang dihadapi? 

Bertolak dari pilihan saya sekitar bulan Desember 2016 untuk bergabung bersama Ormawa (Organisasi Mahasiswa) di tingkat jurusan, yaitu Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HIMANE). Untuk bergabung di Himane, diawali dengan mengikuti beberapa prosedur, mulai dari rekrutmen seperti pengumpulan berkas-berkas sebagai persyaratan administrasi, wawancara, team building, hingga pengumuman nama-nama yang lolos dan diterima sebagai anggota HIMANE periode kepengurusan 2017. Saya ditempatkan di divisi kaderisasi atau PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia). 

Divisi kaderisasi merupakan divisi yang bergerak di bidang pengembangan atas sumber daya manusia baik yang berada di internal Himane maupun eksternal yaitu mahasiswa jurusan Administrasi Negara selain anggota Himane. Divisi kaderisasi memiliki beberapa program kerja, diantaranya : Beginning, Jumpa dulur ANE, Upgrading, Aksigara dan LK I. Saya dipercaya oleh Kadiv (kepala divisi) kaderisasi untuk bertanggung jawab memegang Aksigara. 

Aksigara merupakan kependekan dari Ajang keakraban mahasiswa baru jurusan Ilmu Administrasi Negara yaitu ajang perkenalan dan keakraban di tingkat jurusan yang ditujukan bagi mahasiswa baru yang diterima di jurusan Ilmu Administrasi Negara. 

Dari sinilah mulai terjadi peningkatan kuantitas tanggung jawab saya. Selain harus bergelut dengan tumpukan tugas-tugas kuliah, tapi juga harus bertanggung jawab atas “konsep” Aksigara 2017.

Setelah didiskusikan dengan beberapa orang terkait, akhirnya terciptalah konsep “serangkaian”.  Serangkaian dikarenakan pertemuannya tidak hanya 3 hari 2 malam seperti ajang keakraban di jurusan lain, tapi pelaksanaannya serangkaian selama 5 minggu, dengan cara mentoring bersama para mentor setiap seminggu sekali dan dilanjutkan dengan pertemuan akbar di setiap akhir pekan. Itu berlangsung selama 4 minggu, karena minggu terakhir (minggu ke-5) yaitu pasca Aksigara yang bentuknya pengabdian masyarakat dan malam keakraban serta mahasiswa baru yang mengurus dan bertanggung jawab atas konsepan dan keberlangsungannya. Tapi tetap dengan pengawasan dan bimbingan dari Himane. 

Melihat konsep yang sudah (sedikit) saya jelaskan tadi, begitu banyak yang perlu saya pertanggungjawabkan rasanya, mulai dari rapat-rapat persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi setelah selesai kegiatan. Hingga akhirnya saya merasa pusing dan jenuh akibat rutinitas tersebut, karena tanggung jawab di luarpun (selain himpunan) begitu banyak. Terkadang (bahkan sering) ketika pusing, saya lepas tanggung jawab atas kegiatan tersebut sehingga harus ketua himpunan yang turun langsung untuk menggantikan saya. (Saya berterima kasih banyak kepada ketua himpunan yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan Aksigara 2017). 

Terakhir dari saya, jikalau merasa mampu ambilah amanah yang orang lain (akan) berikan dan jalani dengan penuh tanggung jawab. Namun kalaulah tidak mampu, jangan sesekali karena hanya akan menjadi beban dan beban. Tapi kalau mau belajar, itulah yang lebih baik..

Bersyukurlah. 

Standar

Berbicara soal perasaan, menarik memang untuk diangkat ke daratan.

Saya akan coba angkat, meskipun hanya melalui tulisan singkat. 

Seringkali diantara kita membatasi perasaan dengan sekat, yaitu diidentikan dengan perasaan seseorang terhadap lawan jenis, ya soal hati. Saya tidak menyalahkan pendapat demikian, karena tergantung sudut pandang mana yang orang tersebut gunakan. Jika berbicara perasaan terkait ketertarikan terhadap lawan jenis, memang kita tidak bisa menafikan karena itu normal, ya, manusiawi. 

Saya akan coba sedikit mengupas tentang perasaan dari sudut pandang yang lain. Menurut saya, perasaan hanya ada dua, suka dan duka. Suka manakala realita selaras dengan harapan, duka jika terjadi kensejangan antara yang diinginkan dengan kejadian di lapangan. Jika ditimbang, kerapkali lebih banyak duka dibanding suka. Mungkin karena kita terlalu berekspektasi tinggi atau bisa jadi syukur kita yang masih kurang. Sehingga duka mengungguli suka, nikmat yang begitu banyak seolah tidak tampak dan hati tidak pernah merasa puas bahkan terus mengeluh lantaran merasa hidup tidak cukup. 

Pesan saya terhadap diri pribadi dan rekan-rekan pembaca, tolong hati-hati jangan kufur terhadap nikmat karena itu bisa mengundang laknat, syukuri lah agar semuanya menjadi berkah. 

Batik Itu.. 

Standar

Batik itu.. 

Aset bangsa, warisan para orang tua

Batik itu.. 

Beragam rupa, tidak hanya baju tapi juga lainnya

Batik itu.. 

Bermacam coraknya, juga bermacam keindahannya

Batik itu.. 

Identitas bangsa, yang harus dijaga kelanggengannya 

Batik itu.. 

Ya batik hehe

Selamat hari batik nasional~

Serang, 02 Oktober 2017

Bedah buku “Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk”

Standar

Selamat sore para pembaca yang budiman, saya ucapkan terima kasih telah bersedia untuk mengunjungi blog ini dan membaca tulisan buruk saya. 

Kali ini saya akan sedikit bercerita soal kegiatan saya kemarin (30 September 2017) yang menurut saya menarik dan perlu diabadikan lewat tulisan agar kelak bisa saya jadikan kenangan.
Baik, langsung saja ya. Silahkan dibaca, semoga bisa mengambil hikmah dan pelajaran..

Pagi ini saya awali dengan mencuci baju, ya baju bekas kuliah selama satu minggu karena tidak sempat dicuci satu persatu. Setelah mencuci baju selesai, dengan segera saya mandi lantaran ada yang mesti dihadiri. Bukan karena paksaan, tapi panggilan dari hati. Ya, saya mesti menghadiri acara bedah buku yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Babussalam dalam kegiatan Untirta Islamic Fair. Buku yang dibedah yaitu berjudul “Tuhan, Maaf Kami Sedang  Sibuk” yang ditulis oleh Ahmad Rifai Rifan.
Ahmad Rifai Rifan atau yang biasa disapa Mas Rifai, adalah salah satu penulis favorit saya. Beliau sudah menulis ratusan buku inspirasi dan motivasi. Pertama kali saya membaca tulisannya yaitu saat kelas 12 SMK, yaitu buku yang berjudul “From Kuper to Super” yang menceritakan tentang kisah seorang remaja yang kuper  kemudian bertransformasi menjadi super karena prestasi-prestasi dan karya-karyanya. Buku tersebut saya dapatkan dari salah satu teman saya. Isi buku tersebut sangat menarik dan inspiratif, sehingga saya terdorong untuk mencari buku-buku Mas Rifai yang lainnya untuk dijadikan bahan kajian berikutnya demi menggali inspirasi dan motivasi. Karena saya berasal dari daerah, begitu sulit rasanya untuk mendapatkan buku-buku bagus karangan Mas Rifai. Karena di daerah saya tidak ada Gramedia atau toko buku besar lainnya yang menjual buku lengkap dari berbagai penulis, toh kalaupun ada pasti mahal harganya. Di perpustakaan daerah Pandeglang pun tempat saya mencari buku-buku menarik tidak ada buku karangan beliau. Alhasil saya hanya bisa mem-follow fans page facebook Mas Rifai, dan di sana saya bisa membaca tulisan-tulisan inspiratif beliau. Saya pernah membaca resensi buku beliau di internet yang berjudul “9 Rahasia Doa Lulus Ujian”, tulisan tersebut sangat bagus dan bisa diaplikasikan ketika menghadapi ujian di sekolah. Sering sekali saya mengamalkan ‘wiridan’ tersebut dan Alhamdulillah hasil ujian saya baik.

Terakhir kali saya membaca buku Mas Rifai yaitu buku yang berjudul “Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk” yang saya dapatkan di perpustakaan daerah Provinsi Banten, sekitar 7 bulan yang lalu. Buku tersebut berisi perenungan yang sangat memdalam tentang kehidupan, khususnya bagi orang-orang yang merasa hidupnya begitu sibuk oleh urusan duniawi sehingga tidak ada waktu untuk melakukan hal-hal ukhrawi. Ketika membaca buku tersebut, tidak jarang hati saya bergetar bahkan air yang begitu dingin menetes dari mata saya. Karena saya sadar begitu sering saya menjadikan kesibukan duniawi sebagai dalih bagi saya untuk meninggalkan ibadah atau hal-hal ukhrawi. Renungan yang sangat mendalam! Ternyata persoalannya satu, saya salah dalam persepsi. Seharusnya saya tidak mengkotakkan antara hal duniawi dengan ukhrawi. Karena keduanya bisa sama-sama diniatkan untuk urusan ukhrawi. Ya, diniatkan untuk ibadah. Solusinya, saya harus mengakhiratkan dunia saya.

Saya sangat bersyukur kemarin bisa bertemu langsung dengan beliau dan mengikuti kajiannya tentang buku “Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk”.
Saya bisa menyaksikan langsung kepiawain beliau ketika berbicara dan menyampaikan materi, sama seperti buku-bukunya, menarik, berisi, dan menginspirasi.
Saya begitu kagum terhadap beliau. Sayangnya kemarin tidak ada momen yang pas untuk minta foto bersama Mas Rifai. Saya hanya bisa mendoakan, semoga Mas Rifai senantiasa istiqomah dalam ketaatan dan selalu ada dalam ridha dan diberkahi oleh Allah hidupnya. Aamiin.
Ketika saya keluar dari tempat bedah buku tersebut, saya berdoa dengan penuh harap kepada Allah, semoga suatu hari nanti saya bisa duduk bersama dengan Mas Rifai dalam suatu forum yang mana kami berdua sama-sama menjadi pembicara dalam forum tersebut. Aamiin.

Pandeglang, 1 Oktober 2017.

Puisi keraguan

Standar

Tiba surya menjelma

Seraya hangatnya hawa

Menyengat susasana dingin

Pergi bersama tiupan angin

Duduk di samping gubuk

Tempat peraduan derita dan tawa

Dengan lemas aku tertunduk

Saat keraguan mencoba masuk

Hari ini, semi akhir bulan kesembilan

Derita anak beasiswa telat pencairan

Dompet kosong kekeringan

Perut lapar belum makan

Janji-janji manis diucapkan

Tolong tunggu sampe tanggal sekian

Buktinya, hilal pencairan belum keliatan

Sekarang aku tau

Itu semua hanya untuk meninabobokan

Ribuan anak bangsa menunggu

Para pemimpi yang ekonominya tidak mampu

Hutang kesana kemari diampu

Sampai akhirnya berujung malu

Ini puisi tentang keraguan

Ragu mampu menyelesaikan pendidikan

Lantaran menderita banyak fikiran

Karena ekonomi yang kekeringan

Aku hanya bisa mengambil hikmah dan pelajaran

Mohon bersabar, ini ujian!
Serang, 29 September 2017

Cobaan up ketaatan

Standar

Pagi dini seorang diri

Sunyi sepi menemani

Dingin hawa pagi menyelimuti 

Membawa pikiranku menjauh pergi
Teringat akan ibu

Bapak, dan juga saudaraku

Sudah sekian lama tidak ketemu

Silaturahim dan bersua rindu
Pak, 

Bu, 

Ingin sekali aku menumpahkan rasa

Rasa yang membuat sesak dada

Rasa yang menjadi beban

Rasa yang memberatkan pikiran
Begitu berat cobaan yang kali ini aku rasakan

Tapi tidak hanya aku, 

Setelah beberapa waktu lalu dari rumah mengabariku

Beban kita sama, bahkan lebih berat kalian

Alhamdulillah Allah sayang keluarga kita pak, bu

Dengan cobaan ini taat dan kuat kian meningkat

Serang, 28 September 2017